Postingan

Astrophile

 "Sesungguhnya dalam penicptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, terdapat tanda tanda kekuasaan bagi orang orang yang berpikir. (190) Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi sambil berkata, 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, Lindungilah kami dari azab neraka.' (192)" ** Maha Banar Allah Atas Segala Firman-Nya. Kedua ayat di atas adalah ayat favoritku. Guruku pernah mengatakan bahwa ayat tersebut adalah dua dari sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran yang sunnah dibaca saat kita begitu bangun dari tidur.  Saat aku menghayati arti dari surat ini, aku tertegun. Terheran-heran. Baru bangun tidur banget, ibaratnya saat kita masih mengumpulkan nyawa dan mengembalikan kesadaran, terus kita langsung diperintahkan untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam. Itu terlalu berat bagiku.  Awalnya aku masih questioni...

Seni Bersyukur

Beberapa hari ini entah kenapa sering overthinking. Mungkin karena beberapa deadline yang harus diselesaikan secepat mungkin. Akibatnya, mood sering bgt berubah-ubah kaya cuaca. Intensitas mengeluh juga makin sering. Seperti hukum alam, otomatis intensitas bersyukurnya jadi berkurang. Lalu, seperti biasanya, sabtu sore adalah jadwal mengikuti kajian ustadz nuzul di Masjid Nurul Iman, Blok M. As usual, aku menaiki TJ kesana. Tetiba, di sebuah halte, naiklah rombongan penyandang disabilitas. Jumlah mereka cukup banyak dan beragam. Ada yang tunawicara, tunanetra, tunarungu dan tuna daksa. Dari bapak2, ibu2, nenek2, kakek2, sampai pemuda. Hal tsb membuat keadaan di dlm bus cukup riuh karena sibuk membantu mereka naik, termasuk aku. Selama perjalanan, sesekali aku memperhatikan mereka, yang raut mukanya tak ada tampang mengeluh sedikit pun. Sebaliknya, mereka asyik mengobrol satu sama lain. sesekali salah satu bapak tunanetra mengajakku berbicara, bertanya tentang rute bus. Bpk tsb usianya ...

Cerita Purnama

  Aku selalu kagum dengan purnama. Entahlah, saat menatapnya aku merasa hangat. Aku merasa lega. Aku merasa begitu dekat. Usiaku saat ini 24 tahun.  Purnama ini adalah purnama yang sama yang ku tatap pertama kalinya saat sudah bisa menatap. Purnama ini juga adalah purnama yang sama yang bapak tatap, kakek tatap, kakek buyut tatap.  Entahlah berapa lama usia purnama.  Mungkin sebelum manusia eksis ke bumi, purnama itu sudah ada. Entahlah sudah berapa wajah yang menyaksikannya. Ada yang menatap purnama dengan gembira. Sedih, Ada yang menatap dengan hati yang sesak, Ada yang menatap dengan hati penuh rindu Bermacam-macam wajah yang menatapnya.  ** Purnama selalu menyambutku dengan ramah. Purnama yang saat ini kutatap di lantai 4 kosan Bla**** ini, adalah purnama yang sama yang kutatap di jendela kamar asrama UIN lantai 2 kamar 212. Juga purnama yang sama yang kutatap di lantai 4 kosan UIN D’Koz. Ya, setiap kali aku memulai kisah baru, di tempat yang baru, dia selal...

Pengajar atau Pendidik?

  Pengajar atau Pendidik?  Pengajar adalah kegiatan mentransfer pengetahuan/knowledge kepada yang diajar (murid). Sedangkan Pendidik itu selain mentransfer ilmu pengetahuan, dia juga bertanggung jawab atas perubahan pribadi atau akhlak orang yang dia didik.  Itulah kenapa saat di masa putih abu, sebelum mulai pelajaran, guruku sering berkata, "Yang tadi sholat subuh berjamaah di masjid tolong angkat tangan!" Katanya pada murid laki-laki. Atau, "Siapa Perempuannya yang tadi sholat subuh jamaah di rumah?" Katanya pada murid Perempuan. Lalu, tadi pagi, sebelum mengajar bahasa Inggris, aku mencoba melakukan apa yang dulu guruku lakukan.  "Adik2, tadi siapa yang solat subuh?" Tanyaku. Aku tercenung. Dari total seluruh murid di kelas 6, hanya 5 orang yang angkat tangan. Itupun Perempuan semuanya. Laki-lakinya tidak ada yg angkat tangan sama sekali.  Deg! Seketika aku teringat zaman keemasan Islam dulu. Ketika ilmu Dan Universitas berkembang hebat. Bahkan sampai ...

Adorable Women

  Just now I met a woman with a golden heart and golden face.  With the enthusiast expression, she said “I’am feeling sad with my brothers and sisters in Palestine. But I'm feeling guilty because I just can watch the children hungry. I don’t know what I can do for them.” even though she's a christian woman.  I just reflect on myself. I’m a muslim. Palestine has a special place in the Qur’an. But my effort is still nothing compared to my non muslim friends.  Yeah, sometimes Allah finds you with someone to give you the reminder and the lesson. This is better than studying in the classroom.  And I’m very grateful for it.  30/09/25 

Mr Nalg (Filipina)

  Di antara banyak nya delegasi lain di conference, Mr Nalg adalah yang paling mencuri perhatianku. Pasalnya, speech yang beliau sampaikan begitu kuat, deep, dan berbeda dari delegasi yang lain.  The point is, we have to go back to our values, Islamic values.   Kurang lebih itu kalimat yang beliau tekankan. Semua hadirin diam. Menunduk dan merasa tertampar. Menunggu beliau melanjutkan kata-katanya. Sorot matanya tajam, menatap setiap delegasi yang ada di ruangan privat tersebut. Termasuk aku.  Dan memang yang beliau katakan sangat benar. Apa yang terjadi pada umat Islam saat ini adalah karena mereka meninggalkan agamanya sendiri. Populasinya banyak. Tapi menjadi hidangan lezat yang dicabik-cabik. Tercerai berai.  “Mr Nalg, if you were my age now, what advice would you give me?” Tanyaku di sela-sela break acara.  “You are still young, the same age as my first child. Continue what you are doing now. Return to Islamic values. Islam is a way of life. Techn...

Kenapa Rumit Sekali

Dan sampai saat inipun aku belum bisa mengenali diriku dengan baik. Di antara ramainya dunia, ada satu titik yang masih kosong. Ruangan hampa udara,  yang sulit untuk kubuka dan kupersilahkan masuk siapapun. Sudah lama kubersihkan ruangan itu,  lama.  Dua puluh empat purnama.  Memang, Sulit sekali bagiku untuk membuka kan pintu, Tanganku rasanya berat. Langkahku ragu. Pikiranku berisik.  Tapi tetkala pertahanan jebol juga,  Tak kan ku biarkan ia keluar dengan mudah. Sekalipun tamu itu memporak porandakan isinya, lalu mengambil sebagian hidupnya, ia tetap menunggu. Sampai waktu menyembuhkannya. Kadang aku iri terhadap mereka yang begitu mudah membuka dan menutup. Menganggapnya seperti angin berlalu, Seperti musim yang memang ada masanya. Begitu ringan. Tapi tidak bagiku, Sekali ku bukakan pintu,  akan kugenggam dengan sepenuh hati, dengan cinta dan terkadang diiringi sembilu yang menyatu. Tebet, 1 9 25