Kenapa Rumit Sekali
Dan sampai saat inipun aku belum bisa mengenali diriku dengan baik.
Di antara ramainya dunia, ada satu titik yang masih kosong.
Ruangan hampa udara,
yang sulit untuk kubuka dan kupersilahkan masuk siapapun.
Sudah lama kubersihkan ruangan itu,
lama.
Dua puluh empat purnama.
Memang, Sulit sekali bagiku untuk membuka kan pintu,
Tanganku rasanya berat.
Langkahku ragu.
Pikiranku berisik.
Tapi tetkala pertahanan jebol juga,
Tak kan ku biarkan ia keluar dengan mudah.
Sekalipun tamu itu memporak porandakan isinya,
lalu mengambil sebagian hidupnya,
ia tetap menunggu.
Sampai waktu menyembuhkannya.
Kadang aku iri terhadap mereka yang begitu mudah membuka dan menutup.
Menganggapnya seperti angin berlalu,
Seperti musim yang memang ada masanya.
Begitu ringan.
Tapi tidak bagiku,
Sekali ku bukakan pintu,
akan kugenggam dengan sepenuh hati,
dengan cinta dan terkadang diiringi sembilu yang menyatu.
Tebet, 1 9 25
Komentar
Posting Komentar