Cerita Purnama

 Aku selalu kagum dengan purnama.


Entahlah, saat menatapnya aku merasa hangat. Aku merasa lega. Aku merasa begitu dekat.


Usiaku saat ini 24 tahun. 


Purnama ini adalah purnama yang sama yang ku tatap pertama kalinya saat sudah bisa menatap.


Purnama ini juga adalah purnama yang sama yang bapak tatap, kakek tatap, kakek buyut tatap. 


Entahlah berapa lama usia purnama. 


Mungkin sebelum manusia eksis ke bumi, purnama itu sudah ada.


Entahlah sudah berapa wajah yang menyaksikannya.


Ada yang menatap purnama dengan gembira.


Sedih,


Ada yang menatap dengan hati yang sesak,


Ada yang menatap dengan hati penuh rindu


Bermacam-macam wajah yang menatapnya. 


**


Purnama selalu menyambutku dengan ramah.

Purnama yang saat ini kutatap di lantai 4 kosan Bla**** ini,

adalah purnama yang sama yang kutatap di jendela kamar asrama UIN lantai 2 kamar 212.

Juga purnama yang sama yang kutatap di lantai 4 kosan UIN D’Koz.


Ya, setiap kali aku memulai kisah baru, di tempat yang baru, dia selalu yang pertama kali menyapaku. Dengan bentuk dan cahaya nya yang sempurna. 


Saat pertama kalinya aku merantau ke Ciputat, ke Asrama UIN, malamnya aku disambut dengan purnama yang Indah yang kulihat di balkon kamarku.


Saat aku pertama kalinya ngekos ‘sendiri’ tanpa kedua sahabatku Risa dan Dhilah, 

Di kos UIN D’koz, purnama juga yang menyapaku dengan ramah di kaca jendela kamar lantai 3 favoritku. Aku sering mematung di sana. Di bingkai jendela. Hanya untuk menatap purnama. 


Dan juga, saat ini.
Untuk pertama kalinya aku kos di luar ciputat, kos bukan untuk belajar, melainkan kerja. Kos di kosan yang lingkungan nya ‘sangat baru’ bagiku. Purnama juga yang pertama kali menyapaku di malam harinya. Aku pergi ke rooftop kosan, menatap city light gedung pencangkar langit di pusat bisnis ibu kota. Menteng. Menatap purnama dengan pikiran ‘apakah aku bisa menyelesaikan amanah ini dengan baik?’


Purnama, terima kasih karena selalu menyambutku di tempat baru. 

Aku bisa memahami bahasamu. Mungkin kamu hanya ingin memastikan bahwa aku betah di tempat baru. Dan siap dalam menjalani kisah yang baru. 


Terima kasih purnama. 

Hanya dengan menatapmu, aku bisa menemukan harapan itu. Aku bisa merasakan kekuatan itu. 


Terima kasih purnama. 


Tolong terus temani aku di setiap situasi apapun.


**


Maha Besar Engkau ya Allah, yang telah menciptakan purnama yang begitu indah.
Allahu akbar. 


**

Apakah dia juga menyukai purnama?

apakah dia juga senang menatap purnama?

apakah dia juga saat ini sedang menatap purnama yang sama?


seseorang yang aku pun tdk tahu siapa dia.


yang jelas, aku merasa dekat dengannya saat aku menatap purnama.

jarak tetiba enyah begitu saja. 



Menteng, 06-10-2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seni Bersyukur

Nasihat Mengenai Jodoh