Postingan

?

 Di era digital seperti saat ini, dunia maya, dan serba mudah, justru aku ingin bertemu dengan jodohku dengan cara-cara manual. Seperti dengan tidak sengaja duduk bersampingan di kafe. Atau kebetulan membaca buku yang sama di perpustakaan. Atau bisa jadi bertemu di acara relawan.  Itu lebih indah bukan?

Knocks, and He'll open the door.

Knocks, and He'll open the door. Vanish, and He'll make you shine like the sun. Fall, and He'll raise you to the heavens. Become nothing, and He'll turn you into everything. ***

Waktu Tuhan

Dia selalu memiliki alasan terbaik mengapa doa kita tidak dikabulkan saat itu juga. Ditunda atau bahkan diganti. Dia selalu memiliki rencana yang besar.  Hanya saja kita tidak terlalu sabar menunggu waktu itu tiba. Kita selalu mempertanyakan tentang ketidakadilan. Mengapa? Kenapa? Begitulah manusia. Banyak minta. Tidak sabara. Suka memaksa.  Baru akan menyadari indah rencana Nya dikemudian hari. Barulah saat itu tergugu haru.  ** 12 Juni 2025 

Mengenai Kelahiranku Ke Dunia

Terkadang aku suka bertanya-tanya, apakah kehadiranku di dunia ini membawa keberkahan bagi orang lain? Terkhusus untuk keluargaku? atau justru malah membawa malapetaka bagi mereka? Sampai usia 24 tahun ini, alhamdulillah aku masih bersama orang tua. Entah berapa tahun lagi aku akan tinggal bersama mereka. Satu atau dua tahun lagi? Suatu saat aku akan meninggalkan rumah ini. Entah karena harus ikut suami atau karena maut yang menjemputku lebih dulu. Apakah kehadiranku di kehidupan teman-temanku membawa impact positif bagi mereka? Atau justru mereka lebih senang bila aku tidak hadir? Tapi, beruntungnya.. Aku memiliki mereka yang merasa bahagia dengan kehadiranku. Mereka yang tulus mencintaiku apa adanya. Mereka yang peduli denganku. Mereka yang sangat bersyukur bisa mengenalku.  Terutama kedua orang tuaku. Orang yang paling tulus mencintaiku. Orang yang tidak pernah iri dengan semua pencapaianku. Tempat pulang ternyaman. Aku hanya ingin waktu berbakti kepada mereka di dunia ini masih...

10 Lessons in 24 YO

  10 Pelajaran Hidup yang Aku dapatkan di Umur ke 24 Tahun: Allah mengabulkan doa saat kita sudah siap, bukan saat kita menginginkannya. Ilmu itu luas. Teruslah belajar dan jangan mudah puas. Tujuan utama tetap ridho Allah. Lakukanlah banyak perjalanan. Berkenalanlah dengan banyak orang. Bersikaplah terbuka. Jangan seperti katak dalam tempurung. Mengabdi kepada Allah itu bisa dilakukan di bagian bumi mana saja dan dengan cara apa saja. Ketika kelak kamu sudah bisa berjalan sendiri, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah mengajarimu berjalan.  Ingatlah ilmu berlian itu. Diletakkan dimanapun, dalam situasi apapun, berlian tetaplah berlian. Tetaplah menjadi diri sendiri. Jangan lupakan prinsip dan nilai yang diajarkan di rumah.  Kadang kita harus berterima kasih pada orang-orang yang telah mengatakan ‘tidak’ pada kita, karena dengan itu kita tumbuh. Sahabat itu bukan tentang seberapa sering kamu bertemu dengannya, tapi tentang dia yang tetap menemanimu di masa-masa su...

Badut Kehidupan

  Sosok yang ada di depan cermin itu tersenyum sinis kepadaku. Kenapa? Aku bingung. Dia malah tertawa keras seakan-akan diriku adalah badut kehidupan yang tidak memiliki harga diri.  “Tentu saja aku menertawakanmu. Aku sungguh kasihan padamu. Sungguh! Usiamu makin berkurang. Waktu terus berputar. Kau raih gelar sarjanamu. Kau berbicara tentang idealisme. Kau banyak sekali menuntut ini dan itu. Tapi kau tak sungguh memenuhi kewajibanmu.  Kau naif sekali. Kau mencari kebahagiaan, kau bilang dirimu merasa kosong. Padahal kebahagiaan itu dekat sekali. Hanya saja kau yang tidak menyadarinya.  Bukankah kau dahulu pernah merasa setenang itu? sebahagia itu. Saat kapan?  Saat kau dekat dengan-Nya. Saat kau mengulang-ngulang ayat-Nya. Saat kau selalu mendahulukan-Nya sebelum apapun.  Itulah kebahagiaan yang sedang kau cari saat ini. Kau sudah pernah merasakannya. Kau hanya perlu kembali. Kembali mendekat pada Tuhanmu.” katanya.  Lalu sosok di cermin itu menghila...

Setiap fase ada orang nya

 "Setiap fase ada orangnya, dan setiap orang ada fasenya" Aku sering mendengar quote tersebut. Tapi aku baru tahu makna sebenarnya hari ini, di usiaku yang hampir menginjak 25 tahun.  Menurut penelitian, setiap kehidupan kita naik satu level, kita akan kehilangan 40% teman dekat kita. Tak apa. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk terus bersamaku di setiap fase hidup. Karena tidak semua dari mereka masih mau bersamaku. Aku tahu dan sangat yakin bahwa mereka pasti memiliki alasan terbaik versi mereka sendiri. Dan ini mungkin memang yang terbaik.  Aku menyayangi mereka, meskipun aku tidak tahu apakah mereka menyayangiku seperti aku menyayangi mereka. Aku tidak membutuhkan validasi dari mereka. Aku menyayangi mereka, itu faktanya dan sudah lebih dari cukup.  Semoga mereka bisa menemukan kebahagiaan dimanapun mereka berada. Juga selalu diliputi kebaikan dan keberkahan dalam hidup. Dan untuk orang-orang yang masih menemaniku untuk setiap fasenya, Terima kasih banyak....