Seni Bersyukur

Beberapa hari ini entah kenapa sering overthinking. Mungkin karena beberapa deadline yang harus diselesaikan secepat mungkin. Akibatnya, mood sering bgt berubah-ubah kaya cuaca. Intensitas mengeluh juga makin sering. Seperti hukum alam, otomatis intensitas bersyukurnya jadi berkurang.


Lalu, seperti biasanya, sabtu sore adalah jadwal mengikuti kajian ustadz nuzul di Masjid Nurul Iman, Blok M. As usual, aku menaiki TJ kesana. Tetiba, di sebuah halte, naiklah rombongan penyandang disabilitas. Jumlah mereka cukup banyak dan beragam. Ada yang tunawicara, tunanetra, tunarungu dan tuna daksa. Dari bapak2, ibu2, nenek2, kakek2, sampai pemuda. Hal tsb membuat keadaan di dlm bus cukup riuh karena sibuk membantu mereka naik, termasuk aku.


Selama perjalanan, sesekali aku memperhatikan mereka, yang raut mukanya tak ada tampang mengeluh sedikit pun. Sebaliknya, mereka asyik mengobrol satu sama lain. sesekali salah satu bapak tunanetra mengajakku berbicara, bertanya tentang rute bus. Bpk tsb usianya mungkin tak jauh dari bapakku. satu tangannya menjinjing totebag yang lumayan besar dan berat tentunya. satu tangan lainnya memegang tongkat. Seru sekali mendengar bapak tsb bercerita tentang acara sosial yang beliau dan teman2 datangi. 


Lalu perhatianku beralih kepada seorang perempuan tunanetra berusia empat puluhan yang sedang menggendong seorang bayi. Seperti bpk yg tadi, satu tangan memegang totebag, dan satu tangan lainnya memegang tongkat. sesekali satu tangannya mengelus bayinya yang ada dalam ‘aisannya’. Hal naas hampir saja terjadi ketika ibu tsb hendak turun. Kakinya tersandung. Ia hampir terjatuh dan bayinya hampir terbentur salah satu tiang bus. Untung saja salah satu penumpang dekat ibu tsb segara memegang bayi ibu tsb. Kejadian tsb sungguh membuat jantungan. 


Dalam hati, aku merasa tertampar sekali. Betapa miskinnya aku bersyukur. Sedangkan Allah mengaruniai aku fisik yang lengkap. Yang berfungsi dengan normal. Aku iri sekali dgn ibu tsb. Pastilah beliau perempuan yang tangguh, perempuan tahan banting dan pantang mengeluh. Dan siapalah aku, hanya perempuan lemah yg masih sering mengeluh dgn semua kenikmatan yg Allah kasih. 


Dan entah kenapa, semuanya begitu berkesinambungan. Di masjid, ust Nuzul pun membahas tema tentang ‘syukur’. Bersyukur merupakan sesuatu yang gratis tapi tidak semua orang pandai melakukannya. Makanya, merupakan sebuah kenikmatan ketika kita bisa bersyukur. Beliau juga mengatakan bahwa jika kita pandai bersyukur, maka tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi stres. 


Lengkap sudah hari kemarin aku mendapat dua tamparan sekaligus.


Ciputat-Blok M, 27-04-24


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Purnama

Nasihat Mengenai Jodoh