Badut Kehidupan
Sosok yang ada di depan cermin itu tersenyum sinis kepadaku. Kenapa? Aku bingung. Dia malah tertawa keras seakan-akan diriku adalah badut kehidupan yang tidak memiliki harga diri.
“Tentu saja aku menertawakanmu. Aku sungguh kasihan padamu. Sungguh! Usiamu makin berkurang. Waktu terus berputar. Kau raih gelar sarjanamu. Kau berbicara tentang idealisme. Kau banyak sekali menuntut ini dan itu. Tapi kau tak sungguh memenuhi kewajibanmu.
Kau naif sekali. Kau mencari kebahagiaan, kau bilang dirimu merasa kosong. Padahal kebahagiaan itu dekat sekali. Hanya saja kau yang tidak menyadarinya. Bukankah kau dahulu pernah merasa setenang itu? sebahagia itu. Saat kapan?
Saat kau dekat dengan-Nya. Saat kau mengulang-ngulang ayat-Nya. Saat kau selalu mendahulukan-Nya sebelum apapun.
Itulah kebahagiaan yang sedang kau cari saat ini. Kau sudah pernah merasakannya. Kau hanya perlu kembali. Kembali mendekat pada Tuhanmu.” katanya.
Lalu sosok di cermin itu menghilang.
20/12/24
Komentar
Posting Komentar