Untuk Wanita yang Surga Berada di Bawah Telapak Kakinya
“Nak, semoga mendapatkan jalan untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Ilmu itu luas. Teruslah belajar dan jangan mudah puas! Tujuan utama tetaplah ridho Allah.” Ucap seorang wanita berhati mulia.
Aku terpaku. Terus membaca ulang empat kalimat ajaib tersebut. Memejamkan mata. Lalu menyimpannya di storage terbaik, memori! Benar kata orang bijak, kata-kata memiliki kekuatan yang lebih hebat daripada senjata paling canggih sekalipun. Dengan kata kata-kata, sanggup membuat sebuah negara hancur lebur. Hanya dengan kata-kata, sanggup membuat dua orang saling membunuh. Dan kabar baiknya, kata-kata bisa mengubah kehidupan seseorang 180 derajat lebih maju dari sebelumnya.
Begitupun dengan 4 kalimat ajaib tersebut yang mampu membuat satu titik kobaran api semangat itu muncul dalam diriku. Yang kian hari makin membesar kobaran api semangat itu. Lewat 4 kalimat ajaib tersebut juga yang mampu menggerakkan kaki ini untuk menjelajahi sedikit demi sedikit ciptaan-Nya yang indah ini. Melalui 4 kalimat ajaib tersebut jugalah yang membuat seorang gadis yang selama hampir 18 tahun tidak pernah jauh dari dekapan orang tua, kampung halaman, mencoba mencari suaka di bagian bumi yang lain. Dari hutan kayu yang rindang akan dedaunan, berpindah menjadi hutan beton yang menjulang tinggi.
Bukan hanya 4 kalimat ajaib itu saja. Al-Mulk ayat 15, dan perkataan bijak Imam Syafii pun ikut menginspirasi. “Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).”
Juga, tambah wanita berhati mulia itu. “Lakukanlah banyak perjalanan. Berkenalanlah dengan banyak orang. Bersikaplah terbuka. Jangan seperti katak dalam tempurung! Tapi tetaplah ingat ilmu berlian itu! Diletakkan dimanapun, dalam situasi seperti apapun, berlian tetaplah berlian. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Jangan lupakan nilai2 yang diajarkan di rumah. Harus memiliki prinsip. Dan ketika kelak kamu sudah bisa berjalan sendiri, jangan pernah lupakan orang-orang yang mengajarimu berjalan!” Aku menelan ludah. Mengangguk.
Namun tetap saja, diperjalanan banyak sekali godaan itu. Kadang berbelok. Kadang terjatuh. Kadang ada tanjakan. Kadang ada turunan. Namun, kalimat terakhir dari 4 kalimat ajaib itu selalu kuucapkan ulang dalam hati. “Tujuan utama tetaplah ridho Allah.”
Terima kasih. Untuk wanita yang surga berada di bawah telapak kakinya.
Terima kasih juga. Untuk wanita yang memiliki gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”
***
February, 2023
Komentar
Posting Komentar