Cerpen "Bidadari dari Abad 21"
Bagaimanapun, cinta adalah cinta.
Teknologi secanggih apapun tidak bisa menggantikan posisi cinta di hati
manusia. Karena, bisa merasakan jatuh cinta adalah anugerah dari Tuhan.
“Bidadari
dari Abad 21”
By
Yuni Sulistiawati
Namaku
Mars. Aku anak laki-laki tunggal dari pasangan ilmuan-yang kata orang adalah
ilmuan hebat-di abad 22. Ayahku, Prof. Angkasa, adalah seorang ilmuan yang
berhasil membuat pesawat untuk mengunjungi planet yang sama dengan namaku.
Mars. Pesawat itu pertama kali diluncurkan saat aku tepat lahir ke dunia ini.
Tepatnya lahir dari sebuah inkubator di laboratorium yang selama ini menyimpan
benih sel telur dan sel sperma dari kedua orang tuaku. Ya, sekarang seorang
perempuan tidak perlu susah payah untuk mengandung dan melahirkan seorang anak.
Karena, semua itu bisa di ambil alih oleh teknologi yang super canggih. Aku
pernah membaca sebuah manuskrip kuno di perpustakaan kota bahwa satu abad yang
lalu seorang perempuan harus mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya ke
dunia ini. Oleh karena itu, para ilmuan berusaha untuk menemukan sebuah alat
untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuannya adalah agar nyawa perempuan tidak
terancam.
Kembali
pada ayahku, Prof. Angkasa. Karena hari lahirku bertepatan dengan hari di mana
pertama kalinya pesawat ciptaan ayahku diluncurkan, maka ayahku memberi nama
aku, Mars. Ya, ayahku adalah penggemar berat planet yang mirip dengan Bumi itu.
Sejak kecil, ia sudah melakukan penelitian langsung ke Mars. Ia mempunyai
sebuah impian untuk menciptakan sebuah alat transportasi yang bisa
menghubungkan Bumi dan Mars. Dan ayahku bisa mewujudkan mimpinya itu di usia ke
21 tahun. Aku pernah dua kali mengunjungi Mars dengan menumpang pesawat ciptaan
ayahku. Pertama, saat hari ulang tahunku yang ke sepuluh tahun. Kedua, saat
liburan musim panas tahun lalu. Jujur, aku sangat bangga sekali dengan ayahku.
Sebut saja nama ayahku, maka seantero dunia akan mengangguk mengenalnya. Kini,
Mars menjadi destinasi wisata dunia yang mempunyai jumlah pengunjung yang
banyak setiap tahunnya.
Ibuku
tak kalah hebatnya dengan ayahku. Prof. Mindsa, begitu orang-orang
memanggilnya. Ia sangat tertarik dengan dunia psikologi. Dua tahun yang lalu,
ia mendapatkan penghargaan sebagai Ibu Psikologi abad 22 dari International
Psychology University. Penemuan terbesar ibu yang cukup menggemparkan dunia
adalah alat penghapus pikiran atau Mind Eraser. Fungsi alat
tersebut adalah untuk menghapus sebagian memori dari pikiran kita. Tergantung
kita menginginkan di bagian mana memori yang ingin kita hapus. Suatu hari,
ibuku pernah bercerita kepadaku tentang motivasinya membuat alat tersebut.
Katanya, saat masih kuliah, ibu pernah jatuh cinta kepada seorang lelaki di
kelasnya. Namun, lelaki itu meninggalkannya dan menyakitinya. Saat itu ibu
merasa hancur sekali. Kenangan manis yang ia lalui bersama kekasihnya
membuatnya semakin tersiksa. Ia ingin sekali menghilangkan semua memori itu. Ia
ingin seolah-olah tak pernah mengenal lelaki tersebut. Semenjak itu, ibu
mempunyai impian untuk menciptakan sebuah alat yang bisa menghapus memori. Ia
ingin membantu orang lain bisa menjalani hidup dengan damai, tanpa
dibayang-bayangi oleh masa lalu.
Lalu,
bagaimana denganku?
Saat
ini aku merupakan mahasiswa tahun pertama di International Technology University.
Sebuah universitas teknologi terbaik di dunia. Banyak sekali alumni-alumni
hebat yang merupakan lulusan dari kampusku. Sebut saja Prof. Joyce dari Benua
Amerika yang berhasil menciptakan alat pembuat hujan buatan. Karena
penemuannya, hujan dan panas bisa kita pesan kapanpun. Jika ada seseorang yang
menginginkan hujan di rumahnya, maka ia tinggal memesannya lewat aplikasi.
Maka, dalam beberapa menit awan buatan akan datang dan menurunkan hujan buatan
tepat di atas rumahnya. Selain itu, masih banyak lagi orang-orang hebat yang
merupakan lulusan dari kampusku. Maka tak aneh jika seleksi masuknya pun sangat
ketat.
Tepat
setelah lulus dari sekolah teknologi (sekolah yang setara dengan jenjang SMA),
aku berhasil membuat sebuah aplikasi cinta. Maksudku, sebuah aplikasi berbasis
meta yang mirip dengan kehidupan nyata. Karena saat ini orang-orang semakin
sibuk dengan pekerjaanya, mereka jadi jarang memikirkan untuk menikah dan
memiliki pasangan hidup. Akibatnya, kasus jomblo di dunia ini meningkat tajam.
Dan hal tersebut mempengaruhi penurunan jumlah penduduk di dunia ini. Kasus
kematian lebih besar dari pada kasus kelahiran. Hal tersebut membuat cemas
pemerintah dunia. Akhirnya, pimpinan dunia mengumumkan sayembara bagi siapa
saja yang bisa menciptakan sebuah penemuan baru untuk mengatasi masalah
tersebut, akan mendapatkan hadiah yang sangat besar. Dengan dukungan ayah dan
ibu, aku pun mengikuti kompetisi tersebut. Dan tak disangka, aku bisa
memenangkan kompetisi tersebut dengan penemuanku, aplikasi cinta.
Cara
kerja aplikasi cinta cukuplah mudah. Pelanggan cukup memesan yang kemudian
mendaftarkan diri kepada pihak pemerintah. Pelanggan harus memasukan data diri
dengan sangat lengkap seperti yang ada di kartu identitas diri. Pelanggan juga
harus memotret dirinya menggunakan kamera tembus pandang yang bisa mendeteksi
seluruh anggota tubuh. Termasuk apakah mempunyai penyakit dalam atau kelainan
lainnya. Selain itu, pelanggan juga diminta untuk memasukan apa yang disukai
dan tidak disukai. Tak lupa, pelanggan diminta untuk menuliskan kriteria
pasangan seperti apa yang diinginkan.
Setelah
pemasukan data diri selesai, aplikasi cinta akan memainkannya sendiri. Seperti
sebuah tokoh kartun yang mirip sekali dengan kita. Seolah-olah sedang melakukan
aktifitas di kehidupan nyata. Pergi kuliah, ke pasar, nongkrong, bisa sakit,
dsb. Sampai pada akhirnya, nanti duplikasi diri kita tersebut bertemu dengan
pasangan yang diinginkan. Jika sama-sama sesuai kriteria, maka keduanya akan
merasakan jatuh cinta seperti di kehidupan nyata. Setelah merasa cocok, maka
pelanggan akan bertemu dengan pujaan hatinya di dunia nyata. Jika setelah
bertemu di dunia nyata mereka merasa cocok, maka keduanya tinggal melangsungkan
pernikahan. Setelah melangsungkan pernikahan, setiap orang bisa tinggal secara
terpisah dan melakukan aktifitas sendiri-sendiri. Jika mereka menginginkan
untuk memiliki keturunan, maka keduanya tinggal pergi ke rumah sakit untuk
menitipkan sel telur dan sel sperma kepada pihak rumah sakit. Sangat
mempermudah, bukan?
Namun,
setelah enam bulan peluncuran aplikasi cinta, aku mulai mendapatkan complaint dari
pengguna. Mereka merasa kecewa ketika bertemu secara nyata dengan pasangannya
yang ditemui di aplikasi. Karena, apa yang dilihat dan disebutkan di aplikasi
berbeda dengan kenyatannya. Ya, aku akui kelemahan sistem aplikasi ini. Ada
peluang bagi oknum-oknum tertentu untuk melakukan penipuan demi mendapatkan
pasangan yang diinginkan. Lepas dari itu semua, beberapa pengguna merasa
terbantu dengan aplikasi ini. Jutaan pasangan telah melakukan pernikahan berkat
aplikasi buatanku. Kasus jomblo pun dari waktu ke waktu semakin turun. Dan aku
bahagia sekali bisa membantu banyak orang. Terkecuali diriku sendiri. Hidupku
masih dikatakan belum sepenuhnya bahagia. Seperti tersisa ruang hampa udara
dalam diri ini yang masih kosong.
“Permisi,
ini pesanan anda.” Sebuah robot mengagetkan lamunanku.
Di
hadapanku sudah tersaji soup hangat yang sangat menggoda
seleraku. Menu ini selalu menjadi favoritku di restoran terbesar di Ibu Kota
ini. Restoran yang sangat nyaman. Semua pekerjaan dilakukan oleh robot. Dari
mulai koki, waiters, pengelola keuangan, dsb. Hanya cukup dua
sampai tiga orang yang memantau semuanya.
“Hallo,
Mars!” Tetiba orang yang sedari tadi aku tunggu muncul di hadapanku. Ia
menggunakan alat Self Removal Technology, sehingga ia bisa
menghilang dan tiba-tiba sudah muncul di hadapanku.
“Telat
dua puluh limat menit lima belas detik, Tuan Kerl.” Ucapku.
“Sorry,
tadi ada masalah di lalu lintas udara. Ada orang yang menggunakan hak lisensi mobil
terbang secara ilegal.” Jelas Kerl. Aku mengangguk saja.
Kerl
merupakan sahabat karibku di kampus. Hanya saja kami memilih spesialis ilmu
yang berbeda. Dia lebih menyukai ilmu modifikasi kendaraan. Dia dan timnya
berhasil membuat sekaligus memproduksi mobil terbang, sepeda terbang, dan
sepatu roda terbang. Namun, hanya orang yang telah memenuhi syarat tertentu
saja yang bisa menggunakan fasilitas tersebut.
“Gue
mau pinjem mesin waktu punya lo.” Ucapku to the point.
Kerl
termenung. Dia tidak langsung menanggapi. Hanya dia satu-satunya sahabatku yang
memiliki hak penuh atas mesin waktu milik kampusku.
“Are
you serious?” Kerl menatap tajam ke arahku dengan serius. Dan kubalas
dengan anggukan mantap.
“Okay,
as your best friend, gue izinin. Tapi resikonya lo tanggung sendiri.”
***
Manusia
adalah makhluk cerdas yang tidak pernah merasa puas. Semakin canggihnya
teknologi, semakin banyaknya penemuan, maka hidup manusia semakin mudah. Semua
pekerjaan manusia hampir seluruhnya diambil alih oleh teknologi. Dengan semakin
mudahnya hidup manusia, segala kebutuhan telah terpenuhi, maka kebahagiaan
mudah menghampiri manusia. Namun, benarkah itu?
Sejak
kecil, aku sudah dihadapkan dengan kemajuan teknologi. Bahkan aku sendiri
disimpan dan dilahirkan dengan bantuan rekayasa teknologi. Aku terbiasa dengan
hidup yang serba mudah dan serba instan. Hidupku dan hidup orang-orang masa
kini adalah dambaan kehidupan dari orang-orang di abad sebelumnya. Namun,
benarkah kehidupan yang serba instan ini membuat kita bahagia? Ataukah justru
membuat hidup kita tidak bermakna?
Setelah
aku menemukan sebuah buku kuno yang kupinjam di perpustakaan kota, aku lebih
banyak merenung. Jujur, aku merasa iri dengan orang-orang yang hidup satu abad
yang lalu. Walaupun teknologi mereka masih kuno, tertinggal jauh dari masa kini,
tetapi mereka memiliki kekayaan batin. Para perempuan merasa bahagia saat
pertama kali mendengar suara tangisan bayi yang ia kandung dan lahirkan
walaupun dengan mempertaruhkan nyawanya. Perempuan merasa terhormat sekali bisa
menyapih anaknya selama dua tahun. Ada emosi batin yang mereka miliki yang tak
dapat kami miliki di abad 22.
Termasuk
soal jatuh cinta. Beruntung sekali orang-orang zaman dulu bisa merasakan jatuh
cinta. Ya, walaupun katanya saat mengalami jatuh cinta pasti diringi dengan
rasa sakit hati. Namun, bukankah merasa sakit hati juga adalah anugerah? Karena
sakit hati kita bisa menangis mengeluarkan air mata. Menangis adalah hal yang
jarang terjadi pada orang-orang di masa kini. Termasuk jatuh cinta. Karena
menggunakan aplikasi cinta, perasaan jatuh cinta sudah diambl alih oleh robot
di aplikasi. Robot duplikasi kitalah yang akan merasakannya. Sedangkan diri
kita? Kita hanya perlu bertemu dengan pasangan kita jika bersepakat untuk
memiliki keturunan saja. Berbanding terbalik dengan orang-orang di abad
sebelumnya. Mereka membina rumah tangga bersama, tinggal bersama, memiliki
anak-anak yang lucu dan jatuh cinta setiap harinya. Mereka memiliki semua
emosi. Jatuh cinta, sakit hati, kasih sayang, sedih, berjuang, berharap, dan
kecewa.
“Are
you ready?” Tanya Kerl.
Aku
mengangguk dengan mantap. Aku bersiap untuk masuk ke mesin waktu.
Dalam hitungan detik aku sudah masuk ke
dalam mesin waktu. Jika perkiraanku tidak salah, aku akan sampai di tempat
tujuan dalam waktu lima menit. Semoga saja benar. Aku memejamkan mata, mencoba
meyakinkan diri dengan semua keputusanku. Keadaan di dalam mesin waktu sangat
terang penuh dengan cahaya putih. Tubuhku yang diselimuti oleh cahaya putih
terasa begitu ringan melayang. Aku tidak bisa mendengar suara apapun.
Sepertinya, mesin waktu ini kedap udara. Aku merasa jiwaku seperti ikut
melayang merasakan kenyamanan. Namun, di menit kelima, tubuhku terasa
terombang ambing oleh serangan pusaran angin besar.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...”
Aku menjerit. Tubuhku tersedot oleh sebuah lubang putih.
Tiba-tiba
saja...
Aku
berada di sebuah tempat yang cukup megah. Bangunannya sangat aneh sekali.
Terdapat sebuah kubah di atasnya. Dan tepat di hadapanku, ada orang-orang yang
memakai, apa ya? Seperti sebuah topi berwarna putih. Dan perempuan yang berada
di baris belakang memakai seperti kostum jubah. Mereka melakukan sebuah gerakan
yang sama. Ada satu orang laki-laki yang memimpinnya di depan.
“Apa
yang sedang dilakukan orang-orang purba tahun 2021 ini?” Gumamku pelan.
Aku
termenung cukup lama memerhatikan mereka, sambil mengingat keras isi buku
peradaban 21 yang aku pinjam dari perpustakaan kota. Ya, aku mengingatnya! Ini
adalah tempat ibadah. Tapi aku lupa apa namanya. Tapi, ada sesuatu yang aneh
yang aku rasakan. Entah kenapa aku merasa tentram berada di tempat ini yang
tidak aku temukan di kehidupanku selama ini.
Aku
baru menyadari mereka telah selesai melaksanakan ibadah. Dan sekarang, mereka
semua melihat kepadaku. Aku menjadi sedikit grogi. Lalu, pria yang menjadi
pemimpin ibadah berjalan menghampiriku. Dia menyapaku dengan wajah yang sangat
hangat. Tak lupa, sebuah senyuman terlukis di wajahnya.
“Namaku
Mars. Aku datang dari tahun 2121.” Ucapku memperkenalkan diri.
Orang
yang ada di hadapanku sedikit terhenyak. Termenung sedikit lama. Kemudian dia
kembali tersenyum.
***
Aku
berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan hiruk pikuk aktifitas manusia.
Keadaan seratus tahun yang lalu ternyata sangat jauh berbeda. Teknologi mereka
sangatlah kuno. Lihatlah, alat transfortasi mereka sangat jadul sekali.
Jangankan mobil terbang, mereka masih menyetir mobil dengan manual. Lihatlah
kereta itu masih menggunakan tenaga listrik. Kecepatannya masih biasa saja. Di
masaku, kereta berbentuk kapsul dan berada di bawah tanah. Bahkan bisa menembus
sampai ke bawah laut. Jangan tanyakan lagi kecepatannya. Perjalanan lintas
benua pun bisa dilakukan dalam beberapa jam saja menggunakan kereta kapsul
tersebut.
Saat
melewati sebuah tempat makan, aku berhenti sejenak. Sebuah aroma lezat menusuk
tajam hidungku. Membuat cacing-cacing diperutku menyanyikan berbagai macam
lagu. Lapar. Masakan yang tersaji di tempat makan tersebut sangat menggoda
seleraku. Namun, aku tidak tau cara mendapatkannya. Aku tidak tau mereka
menggunakan alat transaksi apa. Huft, menyebalkan sekali! Oh,
tapi aku ingat sesuatu. Aku punya permen anti lapar yang kubawa dari rumah.
Tapi... Oahhh!! Hilang. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Mana mungkin aku
harus kembali ke abad 22 sekarang juga.
“Permisi,
ada yang bisa saya bantu?” Tetiba seorang perempuan membuyarkan lamunanku.
Ya
ampun! Aku terkejut begitu membalikkan badan. Ada sosok bidadari yang sedang
tersenyum kepadaku. Matanya memancarkan cahaya ketulusan yang begitu menawan.
Sebuah pelangi terbalik melengkung di wajahnya. Kepalanya yang ditutupi oleh
kain berwarna merah muda semakin menambah keindahan padanya. Kurasa waktu
seperti berhenti beberapa detik. Aku pegang dadaku, takutnya suara jantungku
terdengar oleh dia. Kudengar, angin seolah membisikan “Selamat, kau telah
menemukan apa yang selama ini kau cari.”
“Jika
mas ingin makan, silahkan masuk. Kebetulan setiap hari Jum’at, tempat makan ini
gratis. Mas bisa makan sepuasnya.” Suara perempuan itu kembali membuyarkan
lamunanku.
Akupun
mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam tempat makan tersebut. setelah
menunggu beberapa menit, perempuan itu datang dengan membawa nampan yang berisi
makanan. Tidak ada robot di sini, semuanya dilakukan oleh manusia. Tak menunggu
lama, aku langsung menyantap makanan dengan lahap. Ternyata menu
yang bernama “bakso” ini sangat lezat sekali.
“Saya
lihat sepertinya mas bukan orang sini. Kalau boleh tau mas dari daerah mana?”
Kata bidadari itu.
“Namaku
Mars. Aku berasal dari tahun 2121. Tepat seratus tahun di masa depan.” Aku
memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan.
Bidadari
itu mematung. Persis seperti pria berwajah ramah yang aku temui di tempat
ibadah itu. Namun, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Entahlah, dia mempercayaiku atau tidak.
“Aku
Salma, pemilik tempat makan ini.” Ucapnya. Namun ia tidak menjabat tanganku. Ia
menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Langsung saja kutarik
kembali tanganku.
“Boleh
aku bertanya sesuatu?” Tanyaku yang dijawab anggukan olehnya. “Kenapa kamu
tidak menerima uluran tanganku?”
“Karena
perempuan itu spesial.” Jawab bidadari itu sembari tersenyum.
“Dalam
agamaku, perempuan itu seperti ratu. Tidak sembarang laki-laki bisa
menyentuhnya. Hanya lelaki tertentu saja yang bisa menyentuhnya. Seperti ayah,
adik, kakak, anak, paman, kakek dan suaminya. Di hadapan mereka juga, perempuan
bisa melepas jilbabnya. Seperti kain yang aku kenakan sekarang.” Lanjutnya.
Aku
mengangguk paham. “Apakah kamu merasa terganggu dengan mengenakan kain
tersebut?”
“Tidak
sama sekali. Justru aku lebih merasa terlindungi dengan pakaianku yang seperti
ini.”
Sekali
lagi! Aku terpana lagi olehnya. Tepatnya oleh jawaban yang ia berikan. Lalu,
sebuah pertanyaan terbersit di benakku.
“Kenapa
kamu begitu percaya dengan agama? Bukankah karena agama manusia berperang
dengan manusia lainnya?”
Bidadari
itu lagi-lagi tersenyum. Memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
“Pertumpahan
darah atau peperangan yang terjadi di dunia ini bukan disebabkan oleh agama.
Melainkan muncul dari penganutnya. Bukankah rakus adalah sifat asli manusia?
Jadi, walaupun tidak ada agama, peperangan akan tetap terjadi. Justru, dengan
adanya agama, hidup menjadi lebih teratur karena ada hukum yang terdapat dalam
kitab suci. Seperti agama yang kuanut ini, begitu damai dan mengajarkan kasih
sayang bukan hanya kepada manusia tapi kepada semua makhluk yang ada di dunia
ini, termasuk hewan dan tumbuhan. Nama Islam sendiri memiliki arti kedamaian. Percayalah,
hanya dengan mengingat Tuhan hati menjadi tenang.”
Speeechless! Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku mematung
sedikit lama mencerna apa yang dikatakan oleh bidadari itu. Kata-kata itu
sangat menohok sekali.
Tuhan?
Selama ini aku selalu merasakan kehadiranmu. Tapi, apakah aku harus menganut
agama?
Kerl,
aku telah menemukan jawaban yang selama ini ku cari! Batinku.
“Ada
yang bisa aku bantu lagi?”
Aku
mengangguk.
Aku
sedikit raguragu untuk mengatakan kalimat ini. Dengan terbata-bata aku bertanya
kepadanya,“A... apakah kamu sudah menikah?”
Bidadari
itu mengerutkan keningnya. Ia terlihat heran dan kaget. Namun, seperti biasa,
ia kembali tersenyum dan kemudian menjawab.
Namun,
baru saja mulutnya terbuka, tiba-tiba alarm di jam tanganku berbunyi. Bahaya!
Itu tandanya waktuku telah habis. Dan... jlebb!!! Aku menghilang. Kembali masuk
ke mesin waktu.
***
Pukul
sembilan pagi aku sudah berada di stasiun. Kereta yang hendak kunaiki belum jua
datang. Aku mendapat mandat dari kampusku untuk menjadi perwakilan dalam project
penelitian bersama kampus di negara tetangga. Tatapanku lurus mengarah ke
depan. Banyak pikiran yang memenuhi otakku. Bayangan gadis itu selalu hadir
dalam imajinasiku. Sayangnya, aku harus menunda niatku untuk mengunjunginya
lagi karena tugas dari kampus ini. Namun, ada sedikit yang mengganjal pikiranku,
bagaimana kami bisa bersatu? Apakah bidadari itu mau ikut bersamaku ke abad 22?
Tapi aku yakin, jika Tuhan berkendak kami berjodoh, maka Dia akan mempersatukan
kami tak peduli perbedaan jarak dan waktu. Aku percaya itu.
Namun,
tiba-tiba saja diantara keramaian penumpang yang hendak menaiki kereta, lensa
mataku menangkap sosok perempuan berjilbab merah muda. Spontan saja aku berdiri.
Pada dasarnya, jarang sekali bahkan hampir tidak pernah aku melihat perempuan
menggunakan jilbab di abad ini.
Tunggu!
Ini konyol! Pasti ini karena aku terlalu memikirkan gadis itu. Aku mengucek
mata dan memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Namun, benar. This’s not
dream!
“SALMA..”
Teriakku.
Perempuan
itu menoleh.
Persis!
Itu Salma. Orang yang aku temui di tahun 2021.
Merasa
namanya dipanggil, perempuan itu menoleh. “Maaf, namaku Venus.” Ucap perempuan
itu.
Mendengar
jawabannya, ada sedikit rasa kecewa dalam hati ini. “Oh, maaf. Kamu mirip
sekali dengan temanku.”
Aku
menghela nafas. Bodoh sekali. Mana mungkin bidadari itu ada di sini. Aku pun
membalikkan badan.
“Mars..!”
Tetiba sebuah suara memanggilku saat aku hendak melangkah pergi meninggalkannya.
Lalu aku membalikkan badan lagi. Dan ternyata gadis itu yang memanggilku.
“Namaku
Venus. Dan aku juga merupakan Salma. Orang yang sama yang kamu temui di tempat
makan di tahun 2021.”
Jlebb..! Jantungku berdegup kencang. Ternyata firasatku
benar. Di memang Salma yang aku temui di abad 21. Yang membuatku terkejut
adalah ternyata dia memang hidup di abad 22. Sama halnya denganku, dia merasa
hidupnya kosong. Oleh karenanya dia pergi ke abad 21 pada enam bulan yang lalu melalui
mesin waktu karena tertarik dengan kehidupan pada zaman tersebut. Lucunya, ternyata
kita juga sama-sama kuliah di International Technology University.
Ya Tuhan, aku dan bidadari itu hidup di tempat yang sama, masa yang sama, tempat kuliah yang sama, tapi kenapa Engkau pertemukan kami di abad yang berbeda? Rencana-Mu indah sekali, Tuhan.
***
*Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.
Komentar
Posting Komentar