Cerpen "Bidadari dari Abad 21"

 

 

Bagaimanapun, cinta adalah cinta. Teknologi secanggih apapun tidak bisa menggantikan posisi cinta di hati manusia. Karena, bisa merasakan jatuh cinta adalah anugerah dari Tuhan. 

“Bidadari dari Abad 21”

By Yuni Sulistiawati 

Namaku Mars. Aku anak laki-laki tunggal dari pasangan ilmuan-yang kata orang adalah ilmuan hebat-di abad 22. Ayahku, Prof. Angkasa, adalah seorang ilmuan yang berhasil membuat pesawat untuk mengunjungi planet yang sama dengan namaku. Mars. Pesawat itu pertama kali diluncurkan saat aku tepat lahir ke dunia ini. Tepatnya lahir dari sebuah inkubator di laboratorium yang selama ini menyimpan benih sel telur dan sel sperma dari kedua orang tuaku. Ya, sekarang seorang perempuan tidak perlu susah payah untuk mengandung dan melahirkan seorang anak. Karena, semua itu bisa di ambil alih oleh teknologi yang super canggih. Aku pernah membaca sebuah manuskrip kuno di perpustakaan kota bahwa satu abad yang lalu seorang perempuan harus mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya ke dunia ini. Oleh karena itu, para ilmuan berusaha untuk menemukan sebuah alat untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuannya adalah agar nyawa perempuan tidak terancam.

Kembali pada ayahku, Prof. Angkasa. Karena hari lahirku bertepatan dengan hari di mana pertama kalinya pesawat ciptaan ayahku diluncurkan, maka ayahku memberi nama aku, Mars. Ya, ayahku adalah penggemar berat planet yang mirip dengan Bumi itu. Sejak kecil, ia sudah melakukan penelitian langsung ke Mars. Ia mempunyai sebuah impian untuk menciptakan sebuah alat transportasi yang bisa menghubungkan Bumi dan Mars. Dan ayahku bisa mewujudkan mimpinya itu di usia ke 21 tahun. Aku pernah dua kali mengunjungi Mars dengan menumpang pesawat ciptaan ayahku. Pertama, saat hari ulang tahunku yang ke sepuluh tahun. Kedua, saat liburan musim panas tahun lalu. Jujur, aku sangat bangga sekali dengan ayahku. Sebut saja nama ayahku, maka seantero dunia akan mengangguk mengenalnya. Kini, Mars menjadi destinasi wisata dunia yang mempunyai jumlah pengunjung yang banyak setiap tahunnya.

Ibuku tak kalah hebatnya dengan ayahku. Prof. Mindsa, begitu orang-orang memanggilnya. Ia sangat tertarik dengan dunia psikologi. Dua tahun yang lalu, ia mendapatkan penghargaan sebagai Ibu Psikologi abad 22 dari International Psychology University. Penemuan terbesar ibu yang cukup menggemparkan dunia adalah alat penghapus pikiran atau Mind Eraser. Fungsi alat tersebut adalah untuk menghapus sebagian memori dari pikiran kita. Tergantung kita menginginkan di bagian mana memori yang ingin kita hapus. Suatu hari, ibuku pernah bercerita kepadaku tentang motivasinya membuat alat tersebut. Katanya, saat masih kuliah, ibu pernah jatuh cinta kepada seorang lelaki di kelasnya. Namun, lelaki itu meninggalkannya dan menyakitinya. Saat itu ibu merasa hancur sekali. Kenangan manis yang ia lalui bersama kekasihnya membuatnya semakin tersiksa. Ia ingin sekali menghilangkan semua memori itu. Ia ingin seolah-olah tak pernah mengenal lelaki tersebut. Semenjak itu, ibu mempunyai impian untuk menciptakan sebuah alat yang bisa menghapus memori. Ia ingin membantu orang lain bisa menjalani hidup dengan damai, tanpa dibayang-bayangi oleh masa lalu.

Lalu, bagaimana denganku?

Saat ini aku merupakan mahasiswa tahun pertama di International Technology University. Sebuah universitas teknologi terbaik di dunia. Banyak sekali alumni-alumni hebat yang merupakan lulusan dari kampusku. Sebut saja Prof. Joyce dari Benua Amerika yang berhasil menciptakan alat pembuat hujan buatan. Karena penemuannya, hujan dan panas bisa kita pesan kapanpun. Jika ada seseorang yang menginginkan hujan di rumahnya, maka ia tinggal memesannya lewat aplikasi. Maka, dalam beberapa menit awan buatan akan datang dan menurunkan hujan buatan tepat di atas rumahnya. Selain itu, masih banyak lagi orang-orang hebat yang merupakan lulusan dari kampusku. Maka tak aneh jika seleksi masuknya pun sangat ketat.

Tepat setelah lulus dari sekolah teknologi (sekolah yang setara dengan jenjang SMA), aku berhasil membuat sebuah aplikasi cinta. Maksudku, sebuah aplikasi berbasis meta yang mirip dengan kehidupan nyata. Karena saat ini orang-orang semakin sibuk dengan pekerjaanya, mereka jadi jarang memikirkan untuk menikah dan memiliki pasangan hidup. Akibatnya, kasus jomblo di dunia ini meningkat tajam. Dan hal tersebut mempengaruhi penurunan jumlah penduduk di dunia ini. Kasus kematian lebih besar dari pada kasus kelahiran. Hal tersebut membuat cemas pemerintah dunia. Akhirnya, pimpinan dunia mengumumkan sayembara bagi siapa saja yang bisa menciptakan sebuah penemuan baru untuk mengatasi masalah tersebut, akan mendapatkan hadiah yang sangat besar. Dengan dukungan ayah dan ibu, aku pun mengikuti kompetisi tersebut. Dan tak disangka, aku bisa memenangkan kompetisi tersebut dengan penemuanku, aplikasi cinta.

Cara kerja aplikasi cinta cukuplah mudah. Pelanggan cukup memesan yang kemudian mendaftarkan diri kepada pihak pemerintah. Pelanggan harus memasukan data diri dengan sangat lengkap seperti yang ada di kartu identitas diri. Pelanggan juga harus memotret dirinya menggunakan kamera tembus pandang yang bisa mendeteksi seluruh anggota tubuh. Termasuk apakah mempunyai penyakit dalam atau kelainan lainnya. Selain itu, pelanggan juga diminta untuk memasukan apa yang disukai dan tidak disukai. Tak lupa, pelanggan diminta untuk menuliskan kriteria pasangan seperti apa yang diinginkan.

Setelah pemasukan data diri selesai, aplikasi cinta akan memainkannya sendiri. Seperti sebuah tokoh kartun yang mirip sekali dengan kita. Seolah-olah sedang melakukan aktifitas di kehidupan nyata. Pergi kuliah, ke pasar, nongkrong, bisa sakit, dsb. Sampai pada akhirnya, nanti duplikasi diri kita tersebut bertemu dengan pasangan yang diinginkan. Jika sama-sama sesuai kriteria, maka keduanya akan merasakan jatuh cinta seperti di kehidupan nyata. Setelah merasa cocok, maka pelanggan akan bertemu dengan pujaan hatinya di dunia nyata. Jika setelah bertemu di dunia nyata mereka merasa cocok, maka keduanya tinggal melangsungkan pernikahan. Setelah melangsungkan pernikahan, setiap orang bisa tinggal secara terpisah dan melakukan aktifitas sendiri-sendiri. Jika mereka menginginkan untuk memiliki keturunan, maka keduanya tinggal pergi ke rumah sakit untuk menitipkan sel telur dan sel sperma kepada pihak rumah sakit. Sangat mempermudah, bukan?

Namun, setelah enam bulan peluncuran aplikasi cinta, aku mulai mendapatkan complaint dari pengguna. Mereka merasa kecewa ketika bertemu secara nyata dengan pasangannya yang ditemui di aplikasi. Karena, apa yang dilihat dan disebutkan di aplikasi berbeda dengan kenyatannya. Ya, aku akui kelemahan sistem aplikasi ini. Ada peluang bagi oknum-oknum tertentu untuk melakukan penipuan demi mendapatkan pasangan yang diinginkan. Lepas dari itu semua, beberapa pengguna merasa terbantu dengan aplikasi ini. Jutaan pasangan telah melakukan pernikahan berkat aplikasi buatanku. Kasus jomblo pun dari waktu ke waktu semakin turun. Dan aku bahagia sekali bisa membantu banyak orang. Terkecuali diriku sendiri. Hidupku masih dikatakan belum sepenuhnya bahagia. Seperti tersisa ruang hampa udara dalam diri ini yang masih kosong.

“Permisi, ini pesanan anda.” Sebuah robot mengagetkan lamunanku.

Di hadapanku sudah tersaji soup hangat yang sangat menggoda seleraku. Menu ini selalu menjadi favoritku di restoran terbesar di Ibu Kota ini. Restoran yang sangat nyaman. Semua pekerjaan dilakukan oleh robot. Dari mulai koki, waiters, pengelola keuangan, dsb. Hanya cukup dua sampai tiga orang yang memantau semuanya.

“Hallo, Mars!” Tetiba orang yang sedari tadi aku tunggu muncul di hadapanku. Ia menggunakan alat Self Removal Technology, sehingga ia bisa menghilang dan tiba-tiba sudah muncul di hadapanku.

“Telat dua puluh limat menit lima belas detik, Tuan Kerl.” Ucapku.

“Sorry, tadi ada masalah di lalu lintas udara. Ada orang yang menggunakan hak lisensi mobil terbang secara ilegal.” Jelas Kerl. Aku mengangguk saja.

Kerl merupakan sahabat karibku di kampus. Hanya saja kami memilih spesialis ilmu yang berbeda. Dia lebih menyukai ilmu modifikasi kendaraan. Dia dan timnya berhasil membuat sekaligus memproduksi mobil terbang, sepeda terbang, dan sepatu roda terbang. Namun, hanya orang yang telah memenuhi syarat tertentu saja yang bisa menggunakan fasilitas tersebut.

“Gue mau pinjem mesin waktu punya lo.” Ucapku to the point.

Kerl termenung. Dia tidak langsung menanggapi. Hanya dia satu-satunya sahabatku yang memiliki hak penuh atas mesin waktu milik kampusku.

Are you serious?” Kerl menatap tajam ke arahku dengan serius. Dan kubalas dengan anggukan mantap.

“Okay, as your best friend, gue izinin. Tapi resikonya lo tanggung sendiri.”

***

Manusia adalah makhluk cerdas yang tidak pernah merasa puas. Semakin canggihnya teknologi, semakin banyaknya penemuan, maka hidup manusia semakin mudah. Semua pekerjaan manusia hampir seluruhnya diambil alih oleh teknologi. Dengan semakin mudahnya hidup manusia, segala kebutuhan telah terpenuhi, maka kebahagiaan mudah menghampiri manusia. Namun, benarkah itu?

Sejak kecil, aku sudah dihadapkan dengan kemajuan teknologi. Bahkan aku sendiri disimpan dan dilahirkan dengan bantuan rekayasa teknologi. Aku terbiasa dengan hidup yang serba mudah dan serba instan. Hidupku dan hidup orang-orang masa kini adalah dambaan kehidupan dari orang-orang di abad sebelumnya. Namun, benarkah kehidupan yang serba instan ini membuat kita bahagia? Ataukah justru membuat hidup kita tidak bermakna?

Setelah aku menemukan sebuah buku kuno yang kupinjam di perpustakaan kota, aku lebih banyak merenung. Jujur, aku merasa iri dengan orang-orang yang hidup satu abad yang lalu. Walaupun teknologi mereka masih kuno, tertinggal jauh dari masa kini, tetapi mereka memiliki kekayaan batin. Para perempuan merasa bahagia saat pertama kali mendengar suara tangisan bayi yang ia kandung dan lahirkan walaupun dengan mempertaruhkan nyawanya. Perempuan merasa terhormat sekali bisa menyapih anaknya selama dua tahun. Ada emosi batin yang mereka miliki yang tak dapat kami miliki di abad 22.

Termasuk soal jatuh cinta. Beruntung sekali orang-orang zaman dulu bisa merasakan jatuh cinta. Ya, walaupun katanya saat mengalami jatuh cinta pasti diringi dengan rasa sakit hati. Namun, bukankah merasa sakit hati juga adalah anugerah? Karena sakit hati kita bisa menangis mengeluarkan air mata. Menangis adalah hal yang jarang terjadi pada orang-orang di masa kini. Termasuk jatuh cinta. Karena menggunakan aplikasi cinta, perasaan jatuh cinta sudah diambl alih oleh robot di aplikasi. Robot duplikasi kitalah yang akan merasakannya. Sedangkan diri kita? Kita hanya perlu bertemu dengan pasangan kita jika bersepakat untuk memiliki keturunan saja. Berbanding terbalik dengan orang-orang di abad sebelumnya. Mereka membina rumah tangga bersama, tinggal bersama, memiliki anak-anak yang lucu dan jatuh cinta setiap harinya. Mereka memiliki semua emosi. Jatuh cinta, sakit hati, kasih sayang, sedih, berjuang, berharap, dan kecewa.

Are you ready?” Tanya Kerl.

Aku mengangguk dengan mantap. Aku bersiap untuk masuk ke mesin waktu. 

Dalam hitungan detik aku sudah masuk ke dalam mesin waktu. Jika perkiraanku tidak salah, aku akan sampai di tempat tujuan dalam waktu lima menit. Semoga saja benar. Aku memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri dengan semua keputusanku. Keadaan di dalam mesin waktu sangat terang penuh dengan cahaya putih. Tubuhku yang diselimuti oleh cahaya putih terasa begitu ringan melayang. Aku tidak bisa mendengar suara apapun. Sepertinya, mesin waktu ini kedap udara. Aku merasa jiwaku seperti ikut melayang merasakan kenyamanan. Namun, di menit kelima, tubuhku terasa terombang ambing oleh serangan pusaran angin besar. 

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...” Aku menjerit. Tubuhku tersedot oleh sebuah lubang putih.

Tiba-tiba saja...

Aku berada di sebuah tempat yang cukup megah. Bangunannya sangat aneh sekali. Terdapat sebuah kubah di atasnya. Dan tepat di hadapanku, ada orang-orang yang memakai, apa ya? Seperti sebuah topi berwarna putih. Dan perempuan yang berada di baris belakang memakai seperti kostum jubah. Mereka melakukan sebuah gerakan yang sama. Ada satu orang laki-laki yang memimpinnya di depan.

“Apa yang sedang dilakukan orang-orang purba tahun 2021 ini?” Gumamku pelan.

Aku termenung cukup lama memerhatikan mereka, sambil mengingat keras isi buku peradaban 21 yang aku pinjam dari perpustakaan kota. Ya, aku mengingatnya! Ini adalah tempat ibadah. Tapi aku lupa apa namanya. Tapi, ada sesuatu yang aneh yang aku rasakan. Entah kenapa aku merasa tentram berada di tempat ini yang tidak aku temukan di kehidupanku selama ini.

Aku baru menyadari mereka telah selesai melaksanakan ibadah. Dan sekarang, mereka semua melihat kepadaku. Aku menjadi sedikit grogi. Lalu, pria yang menjadi pemimpin ibadah berjalan menghampiriku. Dia menyapaku dengan wajah yang sangat hangat. Tak lupa, sebuah senyuman terlukis di wajahnya.

“Namaku Mars. Aku datang dari tahun 2121.” Ucapku memperkenalkan diri.

Orang yang ada di hadapanku sedikit terhenyak. Termenung sedikit lama. Kemudian dia kembali tersenyum.

***

Aku berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan hiruk pikuk aktifitas manusia. Keadaan seratus tahun yang lalu ternyata sangat jauh berbeda. Teknologi mereka sangatlah kuno. Lihatlah, alat transfortasi mereka sangat jadul sekali. Jangankan mobil terbang, mereka masih menyetir mobil dengan manual. Lihatlah kereta itu masih menggunakan tenaga listrik. Kecepatannya masih biasa saja. Di masaku, kereta berbentuk kapsul dan berada di bawah tanah. Bahkan bisa menembus sampai ke bawah laut. Jangan tanyakan lagi kecepatannya. Perjalanan lintas benua pun bisa dilakukan dalam beberapa jam saja menggunakan kereta kapsul tersebut.

Saat melewati sebuah tempat makan, aku berhenti sejenak. Sebuah aroma lezat menusuk tajam hidungku. Membuat cacing-cacing diperutku menyanyikan berbagai macam lagu. Lapar. Masakan yang tersaji di tempat makan tersebut sangat menggoda seleraku. Namun, aku tidak tau cara mendapatkannya. Aku tidak tau mereka menggunakan alat transaksi apa. Huft, menyebalkan sekali! Oh, tapi aku ingat sesuatu. Aku punya permen anti lapar yang kubawa dari rumah. Tapi... Oahhh!! Hilang. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Mana mungkin aku harus kembali ke abad 22 sekarang juga.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Tetiba seorang perempuan membuyarkan lamunanku.

Ya ampun! Aku terkejut begitu membalikkan badan. Ada sosok bidadari yang sedang tersenyum kepadaku. Matanya memancarkan cahaya ketulusan yang begitu menawan. Sebuah pelangi terbalik melengkung di wajahnya. Kepalanya yang ditutupi oleh kain berwarna merah muda semakin menambah keindahan padanya. Kurasa waktu seperti berhenti beberapa detik. Aku pegang dadaku, takutnya suara jantungku terdengar oleh dia. Kudengar, angin seolah membisikan “Selamat, kau telah menemukan apa yang selama ini kau cari.”

“Jika mas ingin makan, silahkan masuk. Kebetulan setiap hari Jum’at, tempat makan ini gratis. Mas bisa makan sepuasnya.” Suara perempuan itu kembali membuyarkan lamunanku.

Akupun mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam tempat makan tersebut. setelah menunggu beberapa menit, perempuan itu datang dengan membawa nampan yang berisi makanan. Tidak ada robot di sini, semuanya dilakukan oleh manusia. Tak menunggu lama,  aku langsung menyantap makanan dengan lahap. Ternyata menu yang bernama “bakso” ini sangat lezat sekali.

“Saya lihat sepertinya mas bukan orang sini. Kalau boleh tau mas dari daerah mana?” Kata bidadari itu.

“Namaku Mars. Aku berasal dari tahun 2121. Tepat seratus tahun di masa depan.” Aku memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan.

Bidadari itu mematung. Persis seperti pria berwajah ramah yang aku temui di tempat ibadah itu. Namun, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Entahlah, dia mempercayaiku atau tidak.

“Aku Salma, pemilik tempat makan ini.” Ucapnya. Namun ia tidak menjabat tanganku. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Langsung saja kutarik kembali tanganku.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanyaku yang dijawab anggukan olehnya. “Kenapa kamu tidak menerima uluran tanganku?”

“Karena perempuan itu spesial.” Jawab bidadari itu sembari tersenyum.

“Dalam agamaku, perempuan itu seperti ratu. Tidak sembarang laki-laki bisa menyentuhnya. Hanya lelaki tertentu saja yang bisa menyentuhnya. Seperti ayah, adik, kakak, anak, paman, kakek dan suaminya. Di hadapan mereka juga, perempuan bisa melepas jilbabnya. Seperti kain yang aku kenakan sekarang.” Lanjutnya.

Aku mengangguk paham. “Apakah kamu merasa terganggu dengan mengenakan kain tersebut?”

“Tidak sama sekali. Justru aku lebih merasa terlindungi dengan pakaianku yang seperti ini.”

Sekali lagi! Aku terpana lagi olehnya. Tepatnya oleh jawaban yang ia berikan. Lalu, sebuah pertanyaan terbersit di benakku.

“Kenapa kamu begitu percaya dengan agama? Bukankah karena agama manusia berperang dengan manusia lainnya?”

Bidadari itu lagi-lagi tersenyum. Memperlihatkan deretan giginya yang rapih.

“Pertumpahan darah atau peperangan yang terjadi di dunia ini bukan disebabkan oleh agama. Melainkan muncul dari penganutnya. Bukankah rakus adalah sifat asli manusia? Jadi, walaupun tidak ada agama, peperangan akan tetap terjadi. Justru, dengan adanya agama, hidup menjadi lebih teratur karena ada hukum yang terdapat dalam kitab suci. Seperti agama yang kuanut ini, begitu damai dan mengajarkan kasih sayang bukan hanya kepada manusia tapi kepada semua makhluk yang ada di dunia ini, termasuk hewan dan tumbuhan. Nama Islam sendiri memiliki arti kedamaian. Percayalah, hanya dengan mengingat Tuhan hati menjadi tenang.”

Speeechless! Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku mematung sedikit lama mencerna apa yang dikatakan oleh bidadari itu. Kata-kata itu sangat menohok sekali.

Tuhan? Selama ini aku selalu merasakan kehadiranmu. Tapi, apakah aku harus menganut agama?

Kerl, aku telah menemukan jawaban yang selama ini ku cari! Batinku.

“Ada yang bisa aku bantu lagi?”

Aku mengangguk.

Aku sedikit raguragu untuk mengatakan kalimat ini. Dengan terbata-bata aku bertanya kepadanya,“A... apakah kamu sudah menikah?”

Bidadari itu mengerutkan keningnya. Ia terlihat heran dan kaget. Namun, seperti biasa, ia kembali tersenyum dan kemudian menjawab.

Namun, baru saja mulutnya terbuka, tiba-tiba alarm di jam tanganku berbunyi. Bahaya! Itu tandanya waktuku telah habis. Dan... jlebb!!! Aku menghilang. Kembali masuk ke mesin waktu.

***

Pukul sembilan pagi aku sudah berada di stasiun. Kereta yang hendak kunaiki belum jua datang. Aku mendapat mandat dari kampusku untuk menjadi perwakilan dalam project penelitian bersama kampus di negara tetangga. Tatapanku lurus mengarah ke depan. Banyak pikiran yang memenuhi otakku. Bayangan gadis itu selalu hadir dalam imajinasiku. Sayangnya, aku harus menunda niatku untuk mengunjunginya lagi karena tugas dari kampus ini. Namun, ada sedikit yang mengganjal pikiranku, bagaimana kami bisa bersatu? Apakah bidadari itu mau ikut bersamaku ke abad 22? Tapi aku yakin, jika Tuhan berkendak kami berjodoh, maka Dia akan mempersatukan kami tak peduli perbedaan jarak dan waktu. Aku percaya itu.

Namun, tiba-tiba saja diantara keramaian penumpang yang hendak menaiki kereta, lensa mataku menangkap sosok perempuan berjilbab merah muda. Spontan saja aku berdiri. Pada dasarnya, jarang sekali bahkan hampir tidak pernah aku melihat perempuan menggunakan jilbab di abad ini.

Tunggu! Ini konyol! Pasti ini karena aku terlalu memikirkan gadis itu. Aku mengucek mata dan memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Namun, benar. This’s not dream!

“SALMA..” Teriakku.

Perempuan itu menoleh.

Persis! Itu Salma. Orang yang aku temui di tahun 2021.

Merasa namanya dipanggil, perempuan itu menoleh. “Maaf, namaku Venus.” Ucap perempuan itu.

Mendengar jawabannya, ada sedikit rasa kecewa dalam hati ini. “Oh, maaf. Kamu mirip sekali dengan temanku.”

Aku menghela nafas. Bodoh sekali. Mana mungkin bidadari itu ada di sini. Aku pun membalikkan badan.

“Mars..!” Tetiba sebuah suara memanggilku saat aku hendak melangkah pergi meninggalkannya. Lalu aku membalikkan badan lagi. Dan ternyata gadis itu yang memanggilku.

“Namaku Venus. Dan aku juga merupakan Salma. Orang yang sama yang kamu temui di tempat makan di tahun 2021.”

Jlebb..! Jantungku berdegup kencang. Ternyata firasatku benar. Di memang Salma yang aku temui di abad 21. Yang membuatku terkejut adalah ternyata dia memang hidup di abad 22. Sama halnya denganku, dia merasa hidupnya kosong. Oleh karenanya dia pergi ke abad 21 pada enam bulan yang lalu melalui mesin waktu karena tertarik dengan kehidupan pada zaman tersebut. Lucunya, ternyata kita juga sama-sama kuliah di International Technology University.

Ya Tuhan, aku dan bidadari itu hidup di tempat yang sama, masa yang sama, tempat kuliah yang sama, tapi kenapa Engkau pertemukan kami di abad yang berbeda? Rencana-Mu indah sekali, Tuhan.

***

 *Cerita ini hanya fiktif belaka

*Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Purnama

Seni Bersyukur

Nasihat Mengenai Jodoh