Postingan

Cerpen "Bidadari dari Abad 21"

    Bagaimanapun, cinta adalah cinta. Teknologi secanggih apapun tidak bisa menggantikan posisi cinta di hati manusia. Karena, bisa merasakan jatuh cinta adalah anugerah dari Tuhan.   “Bidadari dari Abad 21” By Yuni Sulistiawati  Namaku Mars. Aku anak laki-laki tunggal dari pasangan ilmuan- yang kata orang adalah ilmuan hebat -di abad 22. Ayahku, Prof. Angkasa, adalah seorang ilmuan yang berhasil membuat pesawat untuk mengunjungi planet yang sama dengan namaku. Mars. Pesawat itu pertama kali diluncurkan saat aku tepat lahir ke dunia ini. Tepatnya lahir dari sebuah inkubator di laboratorium yang selama ini menyimpan benih sel telur dan sel sperma dari kedua orang tuaku. Ya, sekarang seorang perempuan tidak perlu susah payah untuk mengandung dan melahirkan seorang anak. Karena, semua itu bisa di ambil alih oleh teknologi yang super canggih. Aku pernah membaca sebuah manuskrip kuno di perpustakaan kota bahwa satu abad yang lalu seorang perempuan harus mempertaruhkan nya...

Pantun Nasihat

  Mendayung perahu menggunakan sampan Mendayung jangan berganti haluan Ilmu pengetahuan tanpa libatkan Tuhan Hanya melahirkan monster mengerikan   I met a women at Robinson She’s very kind and beautiful You’re really a richest person If you always be grateful

Puisi Kritik Sosial

  “Inilah Ibu Pertiwiku” By Yuni Sulistiawati Inilah ibu pertiwiku Negeri yang subur, rakyatnya makmur Sumber daya alam melimpah ruah Darat, udara, laut, tersedia sudah   Inilah ibu pertiwiku Di mana pencuri ayam mendekam di jeruji besi Namun tikus berdasi bebas berkeliaran di sana sini Bahkan sampai nonton konser di luar negeri   Inilah ibu pertiwiku Rakyatnya menjerit dicekik pandemi Dan hutang yang semakin menjadi jadi Namun para tuan dan puan malah tumpang kaki   Inilah ibu pertiwiku Di mana kebebasan bersuara digaungkan Namun sepertinya hanyalah sebuah bualan Ujung-ujungnya pembungkaman bagi siapa saja yang melawan  

Definisi Hati

  “Definisi Hati” By Yuni Sulistiawati   Biarkan aku tenggelam di antara sajak-sajak puisiku Biarkan aku menari di antara alunan-alunan simfoniku Biarkan aku tertidur di antara tumpukan aksara-aksara hati Yang tak dapat kudefinisikan sendiri   Biarkan saja.. Dinding-dinding sepi ini memenjarakanku Mengurungku di antara ilusi-ilusi yang kuciptakan sendiri Benar sekali!   Kadang mata iri kepada hati Sebab hati bisa merasakan Tapi mata tidak bisa melihat Sosok adam yang dijanjikan Tuhan   Lalu seberkas cahaya itu datang Memberi sedikit harapan di antara kegelapan malam Menghilangkan dahaga sang musafir yang sedang kehausan Di tengah gurun pasir harapan yang berkepanjangan   Namun, nestapa datang menyapa Mengapa cahaya itu kembali meredup? Mengapa pelangiku pergi tanpa permisi? Meninggalkan mendung yang berubah menjadi hujan badai yang tak dapat kubendung   Boleh aku meminta? Jika tuan memang tak pe...