Postingan

Medicine People

"I am always impressed by people who possess a high spiritual quotient, not only within my own religion, Islam, but in others as well. They radiate such good energy and vibes, which are reflected in the way they speak, gaze at you, and treat others. It is truly amazing; they are like human medicine. I can spend just one hour with them, and everything feels better. I truly believe that having a high spiritual quotient naturally goes hand-in-hand with high intellectual and emotional quotients. I am always learning from the people I meet. Furthermore, people with that kind of energy rarely, if ever, judge others. My prayer is that Allah always surrounds me with such people. ** Bogor, 24 April 26

Memaknai Hidup

Kadang kita lupa bahwa apa yang kita keluhkan selama ini adalah apa yang diimpikan oleh orang lain. Aktifitas yang menurut kita membosankan adalah aktifitas yang diinginkan oleh orang lain. Kita tidak nafsu makan karena bosan dengan menu-menunya. Sedang beberapa orang tidak makan karena tidak mampu mendapatkan nya. Kita bingung mau pakai baju yg mana, sedang beberapa orang bingung karena hanya punya baju satu satunya. Satu gelas kopi yang kita beli di kafe favorit, bagi beberapa orang bisa untuk makan satu keluarga. Ketika kita terus menerus memandang langit yang indah dan obses untuk terbang, kita akan lupa bahwa kita memiliki bumi yang tidak kalah indahnya. Ada laut, sungai, juga gunung yang luar biasa. Bukannya tidak boleh belajar untuk terbang, itu hal yg baik. Sebagai bentuk motivasi diri. Tapi sesekali juga kita perlu menunduk, bukan untuk bermalasan. Melainkan untuk merenung, mensyukuri betapa indahnya apa yg kita miliki. *** 07/04/26 Dalam perjalanan KRL Tebet - Bogor. Insigth ...

Sambil Menunggu Kematian

 Sebagai seseorang yang bekerja di NGO kemanusiaan, yang setiap hari di wajibkan untuk membaca berita-berita tentang genosida, perang, politik, kematian, dan kehilangan, adalah sebuah tantangan tersendiri. Belum lagi harus memeriksa, melihat, dan membuat laporan dokumentasi kemanusiaan. Orang-orang yang kelaparan, kehausan, homeless. Ini sangat menguras emosiku.  Di satu sisi aku merasa bersyukur karena apa yang aku kerjakan bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Menolong orang lain. Mendapat amal jariyah. Pahala. Aku senang ketika aku terlibat dalam program kemanusiaan. It's very warming.  Tapi disisi lain, aku merasa emosiku selalu terkuras. Bukan hal yang mudah ketika harus menyaksikan penderitaan setiap hari, dimana merupakan bagian dari pekerjaanku. Kadang aku merasa burn out. Marah. Aku merasa tidak berdaya hanya bisa menyaksikan dan membantu lewat hal ini.  Setiap perasaan itu muncul dan ingin berhenti, aku selalu membayangkan wajah-wajah mungil yang bahagi...

Cinta Paling Tulus

 Semakin dewasa semakin aku menyadari bahwa tidak ada laki-laki yang bisa mencintaiku sebesar cinta bapak kepadaku. Cinta yang tulus, rela berkorban, dan selalu ada untukku di setiap aku membutuhkan bantuan. Cinta yang tidak mengharapkan pamrih. Cinta yang menguatkan.  Juga, tidak ada sahabat setulus ibu. Selain perannya sebagai ibu, beliau juga merupakan sosok sahabat yang tidak pernah iri atas pencapaianku. Menasehatiku dengan tulus. Dan hanya beliaulah satu satunya perempuan yang menginginkan aku lebih bersinar dari dirinya sendiri.  Semuanya akan baik-baik saja selama aku bisa melihat senyum keduanya di dunia ini. *Bogor, 31-01-26

Selesai dengan Diri Sendiri

Apa makna kalimat "Selesai dengan Diri Sendiri"? Salah satu pelajaran terbaik yang aku dapatkan di tahun 2025 adalah ketika aku mendapatkan  jawaban dari pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang selalu memenuhi kepala ku. Sampai aku membaca buku Leadership X, Y, Z karya Pak Anies Baswedan, Mas Dedi Wijaya, & Kak Sarah Ardiwinata. Apakah selesai dengan diri sendiri artinya menunggu diri kita sempurna? Tentu tidak. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Selesai dengan diri sendiri maknanya adalah memiliki kendali untuk diri sendiri. Karena sampai kapanpun kita tidak akan 100% selesai memahami diri sendiri. Diri kita akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu.  Begitupun dengan makna hidup. Makna hidup kita akan berubah seiring berjalannya waktu. Seiring bertambahnya usia. Seiring bertambahnya tempat-tempat baru yang kita kunjungi. Seiring banyaknya orang-orang baru yang kita temui. Juga, seiring banyaknya pengalaman pahit-manis yang tentunya membentuk pola pikir...

Astrophile

 "Sesungguhnya dalam penicptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, terdapat tanda tanda kekuasaan bagi orang orang yang berpikir. (190) Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi sambil berkata, 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, Lindungilah kami dari azab neraka.' (192)" ** Maha Banar Allah Atas Segala Firman-Nya. Kedua ayat di atas adalah ayat favoritku. Guruku pernah mengatakan bahwa ayat tersebut adalah dua dari sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran yang sunnah dibaca saat kita begitu bangun dari tidur.  Saat aku menghayati arti dari surat ini, aku tertegun. Terheran-heran. Baru bangun tidur banget, ibaratnya saat kita masih mengumpulkan nyawa dan mengembalikan kesadaran, terus kita langsung diperintahkan untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam. Itu terlalu berat bagiku.  Awalnya aku masih questioni...

Seni Bersyukur

Beberapa hari ini entah kenapa sering overthinking. Mungkin karena beberapa deadline yang harus diselesaikan secepat mungkin. Akibatnya, mood sering bgt berubah-ubah kaya cuaca. Intensitas mengeluh juga makin sering. Seperti hukum alam, otomatis intensitas bersyukurnya jadi berkurang. Lalu, seperti biasanya, sabtu sore adalah jadwal mengikuti kajian ustadz nuzul di Masjid Nurul Iman, Blok M. As usual, aku menaiki TJ kesana. Tetiba, di sebuah halte, naiklah rombongan penyandang disabilitas. Jumlah mereka cukup banyak dan beragam. Ada yang tunawicara, tunanetra, tunarungu dan tuna daksa. Dari bapak2, ibu2, nenek2, kakek2, sampai pemuda. Hal tsb membuat keadaan di dlm bus cukup riuh karena sibuk membantu mereka naik, termasuk aku. Selama perjalanan, sesekali aku memperhatikan mereka, yang raut mukanya tak ada tampang mengeluh sedikit pun. Sebaliknya, mereka asyik mengobrol satu sama lain. sesekali salah satu bapak tunanetra mengajakku berbicara, bertanya tentang rute bus. Bpk tsb usianya ...