Postingan

When the Sky Remembers Us

  When the Sky Remembers Us Wherever you are, whatever moment holds you close, tell me— we’re still beneath the same sky, bathed in the same golden hush of sunset, as the adzan drifts through the fading light. I feel you, not in the way eyes see, but in the way hearts remember— so near, as if distance was only a word, and miles were never real. My prayers rise, carrying your name like a sacred echo, crossing the silence of distance, until they find you, wherever your heart may rest. Our souls meet above the amber clouds, in that quiet space between longing and surrender, woven together in the rābiṭah we whisper after maghrib, when the world turns soft and sacred. And still— your name is hidden, unseen by my eyes, but known, perhaps, by the One who holds us both in every sujud.

Kita dan Langit yang Sama

" Kita dan Langit yang Sama" Sedang apa pun dirimu, di mana pun jejakmu berpijak, bisikkan saja padaku— bahwa kita tengah menatap langit yang sama, sunset yang serupa, dan lantunan azan yang menyentuh cakrawala senja… Aku bisa merasamu di sini, dekat, lebih dekat dari apa pun yang mampu dijangkau oleh jarak. Doaku menembus ribuan kilometer, menyusuri udara, menembus waktu— menuju hatimu. Jiwa kita terbang, menari di atas awan kolumbus berwarna jingga, bersatu dalam lirih doa robithoh yang kita panjatkan selepas magrib. Dan meski begitu, namamu masih ghaib bagiku. Namun aku yakin, namaku telah lama hadir di sujud panjangmu. ** Senja hari yang cerah 12,05,2025

Karena kita Hidup Hanya beberapa hari saja

 Jika memang kata sebagian sufi bahwa kita di dunia ini hanya mimpi. Atau bahkan Allah berfirman dalam kitab-Nya bahwa sejatinya manusia tinggal di bumi hanya beberapa hari saja. Jika memang begitu, aku ingin menjadikan hidupku yang hanya beberapa hari saja ini menjadi hidup yang paling bahagia dan penuh kenangan.  Aku sangat bersyukur, Dia mempertemukanku dengan orang-orang yang sangat amat baik. Turut mewarnai hidupku yang singkat itu di dunia yang memang fana ini. Ada yang hanya bertemu di fase tertentu saja, namun ada juga yang selalu membersamaiku di setiap fase. Orang-orang itu tidak pernah meninggalkanku dan membiarkanku sendiri.  Semoga Dia mencintai mereka yang mencintaiku. Menyayangi mereka yang menyayangiku. Dan menolong mereka yang pernah menolongku.  Semoga, di kehidupan yang kekal nanti, kami bisa kembali berkumpul. Mengenang apa yang telah kami lalui bersama di kehidupan yang fana sebelumnya. * 6 May 2025

Muslimah Pencetus Toga Wisuda

  Perempuan dibalik toga wisuda. Bangga sekali rasanya bisa memakai jubah dan toga wisuda yang dicetuskan oleh perempuan favoritku, Fatimah Al-Fihri, the most smart women and also the founder of the oldest university in the world. Lahir sebagai anak perempuan pertama dari dua bersaudara di keluarga pedagang muslim, Fatimah dan adiknya, Maryam Al Fihri memiliki passion yang sangat kuat dalam bidang pendidikan. Ia merupakan pendiri dari Universitas Qorowiyyin di Maroko. Univ yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar: Ibnu Khaldun (Sosiolog), Al-Idrisi (Kartografer), dan juga Paus Sylvaster II yang merupakan non Muslim. Selain menunjukkan bahwa Islam menjadi center dari perkembangan IPTEK, hal ini menunjukkan bahwa Islam juga membuka kesempatan yang sama bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu, baik itu muslim atau non muslim. Saat itu, untuk merayakan kelulusan, para mahasiswa di univ tsb yang selalu memakai jubah, juga memakai toga. Toga sendiri bentuknya yang persegi (pada mas...

Senja & Sebuah Tanya

 Aku termenung  Di antara peralihan siang dan malam  Yang ku sebut itu senja  Jemari menari menggoyangkan pena Di atas hamparan putih yang bergaris Sukma bertanya, Tentang ruang hampa udara  Yang kemarin sempat bersuka ria Gelombang apakah itu? Perhatikan tanda tanya itu. Pena itu kembali menari-nari Goresannya meliuk membentuk sebuah arti  Terhenyak diri, mencoba mensiasati Lalu ku dengar alunan tahrim nan indah sekali  Ternyata adzan magrib berkumandang sebentar lagi ** Ditulis menjelang magrib, 11 Januari 2021

Untuk Wanita yang Surga Berada di Bawah Telapak Kakinya

  “Nak, semoga mendapatkan jalan untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Ilmu itu luas. Teruslah belajar dan jangan mudah puas! Tujuan utama tetaplah ridho Allah.” Ucap seorang wanita berhati mulia.  Aku terpaku. Terus membaca ulang empat kalimat ajaib tersebut. Memejamkan mata. Lalu menyimpannya di storage terbaik, memori! Benar kata orang bijak, kata-kata memiliki kekuatan yang lebih hebat daripada senjata paling canggih sekalipun. Dengan kata kata-kata, sanggup membuat sebuah negara hancur lebur. Hanya dengan kata-kata, sanggup membuat dua orang saling membunuh. Dan kabar baiknya, kata-kata bisa mengubah kehidupan seseorang 180 derajat lebih maju dari sebelumnya.  Begitupun dengan 4 kalimat ajaib tersebut yang mampu membuat satu titik kobaran api semangat itu muncul dalam diriku. Yang kian hari makin membesar kobaran api semangat itu. Lewat 4 kalimat ajaib tersebut juga yang mampu menggerakkan kaki ini untuk menjelajahi sedikit demi sedikit ciptaan-Nya yang indah ini...

Terima kasih Juni

Tanpamu,  Tidak akan ada puisi ‘Hujan Bulan Juni’ Tanpamu,  Tidak akan ada lagu ‘Satu Hari di Bulan Juni’ Tanpamu, Tidak Akan ada lagu ‘Dingin di Bulan Juni’ Tanpamu,  Tidak akan ada puisi ‘Selamat Datang Juni’ dan tanpamu,  Tidak akan ada puisi ‘Juni Kelabu’ Duhai Juni Aku tidak akan sepenuhnya percaya Cerahmu nanti memang memesona Tapi siapa yang tahu di mana akhir dari cahaya Perjalanan masih jauh, tapi aku akan berjuang menggapai nirwana ** June, 2023